Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tumpukan Surat

Pagi Istimewa

Pagi itu, aku baru saja bangun tidur. Aku masih terlena dengan hangatnya tempat tidur. Tak lama ternyata kamu pun terjaga. Aku begitu merindukanmu. Seperti pagi itu dan pagi-pagi yang lain setiap hari. Dan kamu pun punya rasa indah yang sama. Pesan singkat yang kamu kirim menjadi tanda kuat bahwa pagi itu, aku dan kamu begitu saling merindukan. Mengirim foto harianku mungkin sudah menjadi hal biasa. Dunia digital memang mempersempit jarak. Dan cinta itu tak pernah punya jarak. Sejauh apapun. Cinta tetap hidup. Kemudian kukirimkan wajah kucel dengan mata sembab akibat sering bergadang. Sempat kulihat sekali lagi setelah kukirim padamu. Tidak! Pasti orang ilfeel begitu lihat mukaku pagi itu. Namun tak begitu denganmu. “Canttikkkk.” Entah aku memang masih berada dialam mimpi, entah kamu yang masih melayang dalam mimpi. Aku merasa ada blitz seketika di kamar. Karena seumur hidupku, selama aku pernah bersama dengan seseorang yang disebut pacar atau kekasih, aku belum pernah mendapa...

Untuk Seseorang dalam Senja Itu

                Beberapa halaman ini akan menjelaskan jejak yang kita ukir dan jejak itu sudah dipastikan belum selesai. Tapak demi setapak jalan sedang kita bangun. Namun saat ini, kita sedang berpaku dengan jenuh. Kita berpijak dalam pijakan berbeda. Dan saat itu, kamu memilih lebih senang berbelok dan membiarkan aku berdiam ditempat biasa kita selalu ada, berdua. Mungkin hampir setahun sudah waktu mengiringi pertemuan ini. Anak ilalang. Ingatkah kamu pada percikan panggilan yang selalu kamu lontarkan pada masa itu? Masa saat berdampingan dengan sang maya.  Mencarimu saat itu berarti menusuri jejak sang maya. Sempat terpikir, kamu termasuk gerombolan cowok genit dengan senjata api mereka: gombalan. Dan pikiran itu, SALAH. Maaf soal hal ini. Sang maya terkadang dicampuri dengan hitamnya dusta. Dan kamu adalah warna putihnya. Beberapa waktu menusuri, kamu mulai menjadi heorin. Tak bisa lepas bila sebuah kal...

Surat untuk Debu* (2)

Dear Debu*, Menunggu menjadi tak masalah bagiku, jika itu adalah kamu. Ditengah terik pun bisa kuterjang. Sebuah kelemahan datang justru saat kamu membiarkan aku terpaut dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tak perlu kamu tanyakan lagi. Setiap pertanyaan itu muncul, kepingan sendu menghiasi. Berbicara seolah aku tak pantas untukmu. Ini seperti sebuah surat usang yang patut kamu buang. Surat keputusasaan dari seorang perempuan yang mungkin hanya bisa berada disudut matamu. Digenggam olehmu adalah impiannya. Bisa merawatmu dan disampingmu selalu adalah tujuannya. Melihat senyummu adalah anugerahnya. Dan menantimu adalah kesabarannya. Maaf jika perempuan ini terlalu memperhatikanmu. Kamu seperti napasnya. Ada dibenaknya setiap saat. Dan semua orang tahu, debu tak bisa digenggam. Seperti itukah kamu, Debu*? Kusumbangkan air mata kebahagiaan jika itu memang kebahagiaanmu. Dan kamu tahu, melihat orang yang kita cintai bahagia adalah kebahagiaan tersendiri yang tak bisa tergantikan. ...

Picisan Untuk Rio*

Ini hanya picisan. Mengenai cinta pada pandangan pertama. Cinta pada pandangan pertama. Kamu pasti sudah menarik kesimpulan apabila kejadian ini tidak mungkin.  Ya, benar. Tidak mungkin bagi yang belum pernah mengalaminya. Tidak mungkin bagi yang belum pernah merasakannya. Aku tujukan picisan ini untuk kamu, Rio* Kamu yang bisa membuat aku terpaku dan tak sanggup bicara. Pada pandangan pertama tentunya. Dan kamu menjadi bingung tentang hal ini. Maaf ya, Rio* Aku bukan perempuan yang pandai. Aku tak pandai bersolek. Aku tak pandai memasak. Aku tak pandai berjalan bak model. Aku tak pandai berbohong. Hanya modal diriku sendiri. Seperti itulah akhirnya, aku bisa ungkapkan ini padamu. Apabila saat ini kamu masih dilanda kebingungan, aku pun separah apa yang kamu alami. Malam-malam yang tak bisa tenang dengan mudah. Pagi-pagi cerah yang mendadak mendung dan sore-sore damai yang seketika menjadi sore sendu. Mengenalmu mungkin sebuah keberuntungan. Tak direncanakan. Disetir dengan peras...

Surat yang Terlewat Untuk Adam*

Dear Adam*, Aku senang melihatmu mengeluarkan lagi si #1 yang disambung dengan nama perempuan yang berhasil menjadi ratumu itu. Dan seketika itu, aku mendapat kesimpulan berarti tentang selama ini. Waktu yang lama untuk menanti. Memperhatikan dari sudut kejauhan kampus. Rasa ini hanya kagum. Kagum pada sosokmu yang selalu berhasil membuat degup tak terelakkan dan peluh ditangan  berpendar. Ini benar kisah terakhir tentangmu, Adam*. Entah suatu hari. Entah kapan. Namamu mungkin akan kembali kuukir disini sebagai sosok yang berbeda. Terima kasih Adam*, letupan perasaan itu sudah bisa kupendam dalam.

Surat untuk Debu* (1)

Dear Debu*,                 “Gue sih bodo.” Kalimat itu sungguh bisa mematikan aku. Pernah iseng membiarkan orang lain yang mempraktekkan kalimat ini. Sayangnya, jauh sekali berbeda. Tak ada yang bisa menandingi nada suaramu itu, Debu*. Kenapa harus debu?                 “Debu itu kan susah ngumpulinnya, butuh proses.” Jawaban yang PAS, Debu*. Terima kasih yaa! Aku bisa mengenal filosofi baru mengenai debu. Unik. Aku sendiri tidak bisa menerka apabila ternyata kamu mengukirnya sedemikian rupa sehingga muncul jawaban PAS itu. Padahal tadinya menurutku, debu itu mudah hilang, mudah terbang, mudah pergi, dan mudah sekali terbawa angin kemana pun angin pergi. Debu tidak bisa digenggam lama. Debu hanya singgah. Debu pasti pergi seketika hembusan napas terurai. Itulah pikiranku tentang debu. Dan jawabanmu sama sekali berbeda, Debu*. Sungguh dilu...

Surat Terakhir untuk Adam*

Dear Adam*, Mulai malam ini, mungkin sudah tidak akanada lagi ungkapan untukmu. Kamu sudah bersamanya lagi. Dan saatnya aku untuk pergi. Terima kasih untuk semuanya, Adam. Untuk degup yang tak terduga. Untuk percakapanm konyol kita. Untuk tatapanmu yang tak biasa. Untuk pujiannya. Untuk semangatnya. Terima kasih, Adam. Hapus saja semua picisan dariku selama ini. Percuma. Tak ada nilainya bagimu. Picisan yang tak berarti kemarin pun. Hapus semua! Tak apa. Aku masih punya senyum untukmu di kampus nanti meski tak secerah saat itu. Aku bahagia, Adam. Melihatmu bahagia kembali. Kamu cowok hebat :) Dan surat ini menjadi surat terakhir untukmu, Adam. Mungkin sudah tidak ada kisah lagi di antara kita. Kamu dan aku. Surat ini ditulis dalam keadaan rindu yang meletup-letup padamu. Kemudian seketika saja padam.

Inilah Adam*

Dear Adam*,                 Sore ini, aku coba beranikan diri untuk telepon kamu. Sedikit lelah jika terus menerus hanya bisa memandang foto gantengmu, Adam*. Ada yang lewat dari logika: kamu punya handphone tapi gak ada gunanya. Hehe. Well, aku hanya ingin tahu, baju size apa yang kamu pakai. Waktu mau pencet call , rasanya kayak mau telepon orang paling penting sedunia. Oh, no! Kamu selalu bisa membuat aku terpaku.                 “Hey, Adam*, baju kamu size apa?”                 “Apa? Gak tentu tau.”                 “Kok gak tentu sih? Baju sendiri gak tau.”                 “Iya beneran gak tentu. Gak biasa pak...

Surat untuk Adam* (3)

Dear Adam*,                 Hari ini, seharian ketemu kamu. Sepertinya kamu usai uas jam delapan. Haha. Bagaimana uasnya, ganteng? Seorang teman pernah berkata bahwa tak bisa dibilang uas bila tak bikin pusing. Haha. Lepas dari itu, hari ini hari jumat! Selamat hari ganteng, ganteng. Aku telat mengucapkannya. Terlalu sibuk memikirkan uas hari senin. Kita saling mendoakan untuk uas kita yaa, ganteng!                 Tak berapa lama setelah para makhluk ganteng usai shalat jumat, aku pun selesai merapikan rambut di tempat yang biasa disebut salon. Haha. Entah mengapa, hawa hari ini beda sejak aku lihat kamu pagi ini. Benar ternyata. Tak sengaja aku melihat garis merah dijaket MU favoritku itu. Dan aku langsung yakin, itu kamu! “Nia, mampus ada Adam*!” sambil pura-pura sibuk. Aku tak berani lagi menatap kamui, ganteng. Meski mata kita tak...

Hey, Adam*

Dear, Adam (pengendara motor ninja biru dongker yang membuat saya selalu semangat)             (ditulis beberapa waktu lalu saat Surat Untuk Adam belum diposting) Hari ini, aku melihat kamu dibawah pohon besar itu bersama teman-teman kamu. Kaos abu-abu yang kamu pakai, simple. Aku suka. Walaupun aku tak begitu jelas melihatnya. Tetapi wajah kamu jelas meskipun aku gak pakai kacamata. Selalu begitu. Mau sejauh apapun, kamu terlihat jelas. Dan aku selalu berhasil mengetahui keberadaanmu.             Kamu pasti tahu aku. Semoga abangku tak menyampaikan hal yang sering aku sampaikan padanya tentang kamu. Kamu mungkin bisa menebak. Tingkah laku kita yang sering salah tingkah saat tak sengaja bertatapan. Dan membuat perasaanku bergetar. Aku tak tahu apa yang kamu rasakan. Apa itu sama seperti saat kita tak sengaja bertatapan atau hanya sekejar perasaanku saja. Aku suka jaket MU kam...