Sudut Ternyaman
Sudah hampir delapan tahun. Kami adalah bagian yang sebenarnya telah dipertemukan sebelumnya namun terpisah oleh waktu. Penglihatan saya tentang pertemuan kami di masa lalu menjadi petunjuk agar menjadi sudut di bagian hatinya. Hampir tak ada yang tak dia ketahui dari saya. Suka, duka, buruk, baik bahkan memalukan sekalipun. Saya sungguh bebas selayaknya angin yang menari di antara relung pohon-pohon cemara di bukit. Sejuk. Berharap dia benar merasakan itu. Tempat, jarak, dan waktu adalah teman sejati kami. Saya adalah angin dan dia adalah hamparan rumput segar. Saya tak selalu bisa menghampirinya. Dari kota menuju ke sana memakan waktu yang tak sedikit. Saya pun tak selalu bisa mendengarkan nyanyiannya ketika matahari menyapanya di pagi yang cerah dimana selalu menjadi dambaan setiap insan. Saya pun tak selalu bisa membanggakannya di antara ombak dan pantai. Terlalu jauh untuk bercerita tentangnya. Mungkin saya terlihat sebagai angin gemuruh yang sering sombong melewati k...