Postingan

Picisan Untuk Rio*

Ini hanya picisan. Mengenai cinta pada pandangan pertama. Cinta pada pandangan pertama. Kamu pasti sudah menarik kesimpulan apabila kejadian ini tidak mungkin.  Ya, benar. Tidak mungkin bagi yang belum pernah mengalaminya. Tidak mungkin bagi yang belum pernah merasakannya. Aku tujukan picisan ini untuk kamu, Rio* Kamu yang bisa membuat aku terpaku dan tak sanggup bicara. Pada pandangan pertama tentunya. Dan kamu menjadi bingung tentang hal ini. Maaf ya, Rio* Aku bukan perempuan yang pandai. Aku tak pandai bersolek. Aku tak pandai memasak. Aku tak pandai berjalan bak model. Aku tak pandai berbohong. Hanya modal diriku sendiri. Seperti itulah akhirnya, aku bisa ungkapkan ini padamu. Apabila saat ini kamu masih dilanda kebingungan, aku pun separah apa yang kamu alami. Malam-malam yang tak bisa tenang dengan mudah. Pagi-pagi cerah yang mendadak mendung dan sore-sore damai yang seketika menjadi sore sendu. Mengenalmu mungkin sebuah keberuntungan. Tak direncanakan. Disetir dengan peras...

Surat yang Terlewat Untuk Adam*

Dear Adam*, Aku senang melihatmu mengeluarkan lagi si #1 yang disambung dengan nama perempuan yang berhasil menjadi ratumu itu. Dan seketika itu, aku mendapat kesimpulan berarti tentang selama ini. Waktu yang lama untuk menanti. Memperhatikan dari sudut kejauhan kampus. Rasa ini hanya kagum. Kagum pada sosokmu yang selalu berhasil membuat degup tak terelakkan dan peluh ditangan  berpendar. Ini benar kisah terakhir tentangmu, Adam*. Entah suatu hari. Entah kapan. Namamu mungkin akan kembali kuukir disini sebagai sosok yang berbeda. Terima kasih Adam*, letupan perasaan itu sudah bisa kupendam dalam.

Surat untuk Debu* (1)

Dear Debu*,                 “Gue sih bodo.” Kalimat itu sungguh bisa mematikan aku. Pernah iseng membiarkan orang lain yang mempraktekkan kalimat ini. Sayangnya, jauh sekali berbeda. Tak ada yang bisa menandingi nada suaramu itu, Debu*. Kenapa harus debu?                 “Debu itu kan susah ngumpulinnya, butuh proses.” Jawaban yang PAS, Debu*. Terima kasih yaa! Aku bisa mengenal filosofi baru mengenai debu. Unik. Aku sendiri tidak bisa menerka apabila ternyata kamu mengukirnya sedemikian rupa sehingga muncul jawaban PAS itu. Padahal tadinya menurutku, debu itu mudah hilang, mudah terbang, mudah pergi, dan mudah sekali terbawa angin kemana pun angin pergi. Debu tidak bisa digenggam lama. Debu hanya singgah. Debu pasti pergi seketika hembusan napas terurai. Itulah pikiranku tentang debu. Dan jawabanmu sama sekali berbeda, Debu*. Sungguh dilu...

Surat Terakhir untuk Adam*

Dear Adam*, Mulai malam ini, mungkin sudah tidak akanada lagi ungkapan untukmu. Kamu sudah bersamanya lagi. Dan saatnya aku untuk pergi. Terima kasih untuk semuanya, Adam. Untuk degup yang tak terduga. Untuk percakapanm konyol kita. Untuk tatapanmu yang tak biasa. Untuk pujiannya. Untuk semangatnya. Terima kasih, Adam. Hapus saja semua picisan dariku selama ini. Percuma. Tak ada nilainya bagimu. Picisan yang tak berarti kemarin pun. Hapus semua! Tak apa. Aku masih punya senyum untukmu di kampus nanti meski tak secerah saat itu. Aku bahagia, Adam. Melihatmu bahagia kembali. Kamu cowok hebat :) Dan surat ini menjadi surat terakhir untukmu, Adam. Mungkin sudah tidak ada kisah lagi di antara kita. Kamu dan aku. Surat ini ditulis dalam keadaan rindu yang meletup-letup padamu. Kemudian seketika saja padam.

Inilah Adam*

Dear Adam*,                 Sore ini, aku coba beranikan diri untuk telepon kamu. Sedikit lelah jika terus menerus hanya bisa memandang foto gantengmu, Adam*. Ada yang lewat dari logika: kamu punya handphone tapi gak ada gunanya. Hehe. Well, aku hanya ingin tahu, baju size apa yang kamu pakai. Waktu mau pencet call , rasanya kayak mau telepon orang paling penting sedunia. Oh, no! Kamu selalu bisa membuat aku terpaku.                 “Hey, Adam*, baju kamu size apa?”                 “Apa? Gak tentu tau.”                 “Kok gak tentu sih? Baju sendiri gak tau.”                 “Iya beneran gak tentu. Gak biasa pak...

Surat untuk Adam* (3)

Dear Adam*,                 Hari ini, seharian ketemu kamu. Sepertinya kamu usai uas jam delapan. Haha. Bagaimana uasnya, ganteng? Seorang teman pernah berkata bahwa tak bisa dibilang uas bila tak bikin pusing. Haha. Lepas dari itu, hari ini hari jumat! Selamat hari ganteng, ganteng. Aku telat mengucapkannya. Terlalu sibuk memikirkan uas hari senin. Kita saling mendoakan untuk uas kita yaa, ganteng!                 Tak berapa lama setelah para makhluk ganteng usai shalat jumat, aku pun selesai merapikan rambut di tempat yang biasa disebut salon. Haha. Entah mengapa, hawa hari ini beda sejak aku lihat kamu pagi ini. Benar ternyata. Tak sengaja aku melihat garis merah dijaket MU favoritku itu. Dan aku langsung yakin, itu kamu! “Nia, mampus ada Adam*!” sambil pura-pura sibuk. Aku tak berani lagi menatap kamui, ganteng. Meski mata kita tak...

Qoutes! (1)

created by Sekar Kanya :) FASHION IS THE WAY OF BEING YOURSELF JUST BE 'U' FOR THE UNIQUE