Jujur, baru pertama kali ini gue naik motor (dibonceng) dari Bandung ke Bogor. Perjalanan awal dari Bandung, gue sama sekali gak tahu jalan. Dari kosan gue, tiba-tiba gue nyampe jalan tembusan Marantha dengan kepolosan gue menunjukkan jalan. Alhamdullilah gak nyasar. Awal yang baik :) Perjalanan selanjutnya, mencari daerah Cimindi. Sempat hampir nyasar karena gengsi nanya (gaya banget gue!) dan akhirnya nanya juga sama orang lain (mas-mas yang baru buka toko kayunya, makasih mas :)). Kadir (kakak gue dari Bogor yang boncengin gue) baru pertama kali juga ke Bandung pake motor (pada hari sebelumnya). Dia sempat nyasar di Bandung. Tetapi untuk perjalanan berikutnya setelah Cimindi, dia yang lebih tahu (walau sempat nyasar dikit di Cimahi karena dia gak tahu jalan) dan perjalanan sudah agak lebih tenang setelah tiba di Padalarang (setelah makan pagi dulu di Cimamere). Well, ternyata perjalanan di Padalarang itu ASIK! (asli!) Jalan yang tidak terlalu ra...
Dear Aaron, Dalam diam ini, gw mau pinjam bahu lo buat nangis. Sebentar? Gw yakin lo bakal membiarkan gw seperti ini sampai perasaan gw bisa lebih lega. Lo emang pengertian. Selanjutnya, gw mau cerita banyak sama lo. Boleh pinjam waktu lo? Lo pasti selalu siap jika memang ada kesempatan. Terima kasih karena lo selalu menitipkan gw pada orang terdekat gw. Lo gak pernah membiarkan gw kesepian. Teringat saat tengah malam itu, Aaron. Pesan singkat yang gw kirim ternyata membuat lo khawatir. Maaf. Dan gak lo balas pesan singkat itu. Nama lo langsung muncul sebagai panggilan masuk. Beda operator tentu. Status yang sama sebagai anak kos seolah pudar. Demi gw? Gw yakin, jawabannya ya. Dan hal itu dibenarkan dengan pernyataan lo saat bicara. Kemudian saat ini, gw begitu sangat amat ingin lo ada disamping gw. Gw mungkin akan sedikit menyebalkan dengan air mata gw. Tapi lo gak pernah bilang gw cengeng. Itu istimewanya lo. Lo sering bilang, air mata itu bisa jadi obat lo. Jangan ragu buat mengelu...
Ini hanya picisan. Mengenai cinta pada pandangan pertama. Cinta pada pandangan pertama. Kamu pasti sudah menarik kesimpulan apabila kejadian ini tidak mungkin. Ya, benar. Tidak mungkin bagi yang belum pernah mengalaminya. Tidak mungkin bagi yang belum pernah merasakannya. Aku tujukan picisan ini untuk kamu, Rio* Kamu yang bisa membuat aku terpaku dan tak sanggup bicara. Pada pandangan pertama tentunya. Dan kamu menjadi bingung tentang hal ini. Maaf ya, Rio* Aku bukan perempuan yang pandai. Aku tak pandai bersolek. Aku tak pandai memasak. Aku tak pandai berjalan bak model. Aku tak pandai berbohong. Hanya modal diriku sendiri. Seperti itulah akhirnya, aku bisa ungkapkan ini padamu. Apabila saat ini kamu masih dilanda kebingungan, aku pun separah apa yang kamu alami. Malam-malam yang tak bisa tenang dengan mudah. Pagi-pagi cerah yang mendadak mendung dan sore-sore damai yang seketika menjadi sore sendu. Mengenalmu mungkin sebuah keberuntungan. Tak direncanakan. Disetir dengan peras...
Komentar
Posting Komentar