Postingan

Pengalaman di Kompas Saba Kampus: Menyesal

Saya menyesal! Saya menyesal pada dua hari itu. Minggu, 1 Desember 2013 dan Senin, 2 Desember 2013. Kedua hari itu merupakan hari-hari terselenggaranya Kompas Saba Kampus. Saya sungguh menyesal hingga saya tidak bisa berpikir panjang untuk tidak mendaftar pada kedua tempat terselenggaranya Kompas Saba Kampus itu. Kapan sih Kamu merasa begitu bersemangat? Letupnya yang tak kunjung padam meskipun banyak hambatan. Senyum yang tak ingin hilang meskipun sedang patah hati. Mata berbinar-binar seakan hari begitu cerah padahal mendung sedang disusul oleh hujan. Rasa-rasa seperti itulah yang saya rasakan karena tak sabar ingin turut serta dalam Kompas Saba Kampus. Dan saya sungguh menyesal. Hari pertama, saya merasa menjadi orang asing di kampus orang lain. Berjalan sendirian hingga saya akhirnya bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa S2 IPB hingga rasanya saya merasa berperilaku seperti mereka hari itu.. Ya, setidaknya mengurangi tingkat kesepian di kampus orang lain. Hehe. Ketika mengiku...

Diam-diam sudah Bersaudara

Panggung berdendang dan kerlip lampu yang berwarna turut seiring dengan alunan beraroma Jamaican music . Malam itu, Souljah sedang menghipnotis para penonton dengan Senam Kesegaran Souljah (SKJ). Di antara puluhan penonton, beberapa orang justru terlihat menyudut di samping panggung. Mereka terlihat sudah hafal dan kompak ber-SKJ ria bersama alunan lagu I’m Free dari Souljah. BraddaSouljah, inilah nama mereka, komunitas penggemar aksi panggung Souljah dan mencintai musik Souljah. Tak heran jika mereka hafal dan kompak ber-SKJ ria. Komunitas yang awalnya hanya terdiri dari beberapa orang yang sering menonton aksi panggung Souljah ini diresmikan pada tanggal 8 November 2008 yang pada saat itu, anggotanya hanya teman-teman di sekitar Jakarta. Said, toast Souljah, mengungkapkan bahwa saat ini anggota yang resmi tercatat mencapai sekitar 500 orang tetapi Said yakin bahwa anggota lainnya lebih dari itu dan tersebar di seluruh Indonesia. “Salah satu manfaatnya, kita bisa...

Tahun

Tahun adalah temanku dalam mencintaimu. Tahun yang mendukung setiap detir napasku yang kuhabiskan untukmu. Tahun adalah saksi di antara kisah kita yang begitu singkat dan kisahku dalam menghabiskan waktu untukmu Tahun adalah rentetan detik yang mengeluh ingin dibebaskan. Detik-detik yang terperangkap dalam rindu yang tak kunjung terjamah olehmu. Tahun adalah kenangan tentang kisah kita yang egois. Sama sekali tak ingin dikenang. Harapannya terlampau besar untuk bisa kembali padamu. Tahun adalah degupku yang lelah. Sekian waktunya kuberikan untukmu dan selama itulah kamu tak hadir lagi.

Ampuni Aku, Allah

Ampuni aku, Allah. Aku adalah sebuah debu. Kotor dan tak punya pendirian. Ampuni aku, Allah. Aku adalah pengganggu. Sering lupa bersyukur dan lupa ibadah. Ampuni aku, Allah. Ampuni aku, Allah.

Sudut Ternyaman

Gambar
Sudah hampir delapan tahun. Kami adalah bagian yang sebenarnya telah dipertemukan sebelumnya namun terpisah oleh waktu. Penglihatan saya tentang pertemuan kami di masa lalu menjadi petunjuk agar menjadi sudut di bagian hatinya. Hampir tak ada yang tak dia ketahui dari saya. Suka, duka, buruk, baik bahkan memalukan sekalipun. Saya sungguh bebas selayaknya angin yang menari di antara relung pohon-pohon cemara di bukit. Sejuk. Berharap dia benar merasakan itu. Tempat, jarak, dan waktu adalah teman sejati kami. Saya adalah angin dan dia adalah hamparan rumput segar. Saya tak selalu bisa menghampirinya. Dari kota menuju ke sana memakan waktu yang tak sedikit. Saya pun tak selalu bisa mendengarkan nyanyiannya ketika matahari menyapanya di pagi yang cerah dimana selalu menjadi dambaan setiap insan. Saya pun tak selalu bisa membanggakannya di antara ombak dan pantai. Terlalu jauh untuk bercerita tentangnya. Mungkin saya terlihat sebagai angin gemuruh yang sering sombong melewati k...

Si Hati Sepi

Gambar
Hampir dua tahun lalu, kamar kost saya sempat terlalu manis sehingga banyak semut yang tak ini beranjak dari kamar saya. Sebagian tim hitam sedang, sebagian lagi tim merah kecil. Sebenarnya kami bisa sangat harmonis jika saja mereka tidak memiliki rasa ingin tahu yang begitu tinggi terhadap semua yang saya makan. Saya sungguh tidak bisa meninggalkan sepercik saja dari apa yang saya makan. Dalam hitungan detik, tim hitam sudah berstrategi dan berkumpul. Meskipun begitu, tim hitam masih tak seburuk tim merah. Bukan soal warna atau ukurannya. Ini soal kehadirannya. Tim hitam mudah diketahui kehadirannya karena rasa ingin tahu mereka terhadap apa yang saya makan itu terlihat jelas dari perilaku mereka. Berstrategi dan berkumpul. Tim merah tidak begitu. Tim merah sulit sekali ditebak perilakunya. Tim merah tidak terlalu antusias dengan makanan yang saya makan, mungkin karena sudah ada tim hitam yang lebih dulu. Namun kehadiran tim merah tak terprediksi. Inilah dimulainya keresahan saya...

Bersama, Kita Bisa

Gambar
Berawal dari botol kaca kecil kosong yang kesepian, saya pikir botol ini butuh sentuhan. Setelah dibersihkan dari selimutan merek yang membelenggu beningnya, saya masih berpikir sentuhan apa yang bisa mengurangi rasa sepi botol ini. Rasanya tak tegs bila harus saya diamkan saja sebagai penghias sunyi di kamar kost. Setiap usai kegiatan di luar, jam tangan dan gelang saya tergeletak begitu saja secara terpisah sehingga lemari kecil di pojok kamar kost berukuran 2x3 ini merasa sesak. Begitu pun dengan jam tangan dan gelang kesayangan saya ini. Mereka seolah kesal karena terlalu diterlantarkan, dibiarkan merapikan diri mereka sendiri. Tak sengaja saya meletakkan botol kaca kecil kosong yang kesepian itu di antara mereka. Sepertinya mereka senang dengan kehadiran warga baru di tengah mereka. Jam tangan dan gelang saya jadi lebih mudah ditemukan, di dekat botol kaca kecil kosong yang kesepian. Suatu hari, saya tak sengaja membiarkan gelang saya memeluk botol kaca kecil kosong yan...