Postingan

Ternyata Saya Tidak Sendirian

Gambar
Setelah menonton film “Kita vs Korupsi”, saya merasa tidak sendirian. Jujur saja, selama ini saya merasa sendiri. Dari sejak zaman sekolah sampai duduk dibangku kuliah. Orang yang berpikiran seperti saya bisa dihitung dengan jari. Sampai saat ini, saya masih beripikir bahwa mencontek itu sama dengan mencuri dan membohongi diri sendiri. Pada film “Aku Padamu”, saya punya idola seperti Laras mengidolakan Pak Makmun, gurunya. Idola saya itu adalah ayah saya dan dosen saya, Pak Meindy. Ayah saya selalu mengingatkan, “Jangan mencontek karena mencontek itu sama dengan mencuri dan membohongi diri sendiri. Kalau pada diri sendiri saja sudah bohong, bagaimana pada orang lain?” Pada awalnya, saya sempat sulit membayangkan dan menjalaninya. Bagaimana tidak, hampir semua teman saya pada waktu sekolah, mencotek. Sampai duduk dibangku kuliah, lebih gila lagi cara menconteknya. Saya sempat berpikir saya ini orang aneh yang tidak mengikuti alur kehidupan orang lain pada umumnya, sampai suatu w...

BERANI!

Gambar
Ini pengalaman saya. Saya dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi kejujuran dan membuat saya terus mempertahankan hal tersebut hingga saat ini. Suatu hari, saya diminta sebagai koodinator divisi (biasa disingkat kordiv) acara orientasi pengenalan mahasiswa/i baru di jurusan saya, jurusan Administrasi Publik. Cerita sedikit tentang jurusan saya, jurusan yang berada dibawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini dulunya merupakan jurusan Administrasi Negara. Secara umum, kami belajar mengenai pemerintahan, kebijakan pemerintah, politik, manajemen, organisasi, masyarakat.             Saat dipilih menjadi kordiv, posisi saya sedang menikmati pekerjaan paruh waktu saya sebagai shopkeeper toko baju salah satu brand ternama. Awalnya, saya menolak karena resikonya terlalu besar. Saya tidak bisa sering ikut rapat, saya tidak bisa bertanggung jawab sepenuhnya, dan waktu saya tidak bisa diberikan secara penu...

Buat Aaron, Maaf.

Dear Aaron, “That’s what bestfriends are for.” Jika saat masa putih abu, lo bisa langsung sejukkan gw, saat ini terasa hampa. Ketika keinginan besar untuk pinjam bahu harus terpendam jarak yang memisahkan kita. Rasa jauh semakin terasa. Bagaimana lo di sana? Andai bisa duduk berdua dipinggir pantai saat ini, mungkin air mata akan sederas deru ombak di pantai. Andai bisa bersama menatap langit cerah penuh bintang, gw bakal nunjuk satu bintang itu sebagai Imam. Bersanding dengan terangnya bulan sebagai diri lo. Mengapa harus ada jarak? Keinginan besar untuk langsung berlari menuju lo. Dan langsung peluk lo! Pagi ini, ketika ukiran ini terukir, keinginan menggebu itu sungguh tak sanggup gw tahan. Need you! Dari segala kegundahan, apa yang akan gw ceritakan pasti membuat lo kecewa pada gw. Maaf, Aaron. Lo mungkin malu sama gw. Gw telah membuat kecewa Imam. Imam yang selalu gw banggain sama lo. Akibat hal itu, gw merasa turut mengecewakan lo. Maaf. Lo kecewa dengan sikap gw....

Pagi Istimewa

Pagi itu, aku baru saja bangun tidur. Aku masih terlena dengan hangatnya tempat tidur. Tak lama ternyata kamu pun terjaga. Aku begitu merindukanmu. Seperti pagi itu dan pagi-pagi yang lain setiap hari. Dan kamu pun punya rasa indah yang sama. Pesan singkat yang kamu kirim menjadi tanda kuat bahwa pagi itu, aku dan kamu begitu saling merindukan. Mengirim foto harianku mungkin sudah menjadi hal biasa. Dunia digital memang mempersempit jarak. Dan cinta itu tak pernah punya jarak. Sejauh apapun. Cinta tetap hidup. Kemudian kukirimkan wajah kucel dengan mata sembab akibat sering bergadang. Sempat kulihat sekali lagi setelah kukirim padamu. Tidak! Pasti orang ilfeel begitu lihat mukaku pagi itu. Namun tak begitu denganmu. “Canttikkkk.” Entah aku memang masih berada dialam mimpi, entah kamu yang masih melayang dalam mimpi. Aku merasa ada blitz seketika di kamar. Karena seumur hidupku, selama aku pernah bersama dengan seseorang yang disebut pacar atau kekasih, aku belum pernah mendapa...

Surat untuk Paman Gober

Terima Kasih untuk Waktumu Setahun lebih, lebih sekali. Kita sudah bersama. Berawal sebagai teman, kita berperan bersama dalam sebuah cerita. Saat itu mungkin bukan sekedar cerita. Punya peran masing-masing dan seperti menjalankan sebuah skenario namun nyata. Ya, dulu berupa skenario indah yang nyata. Hampir semua permintaanku seolah menjadi kewajiban untukmu. Bertengkar pun masih bisa dihitung dengan jari. Karakter kamu yang benar bisa meluluhkan aku saat itu. Kamu yang tak pernah bisa melihat aku menangis. Yang kemudian aku sadari sekarang, kamu memang begitu benci aku menangis. Seketika aku menangis, bukan bahu yang kamu berikan melainkan sebuah emosi. Rasa benci melihat air mata. Itulah kamu. Tak ada yang mengalahkan amarahmu. Ketika sebuah kesalahan yang kamu perbuat pun, seharusnya aku yang marah. Tetapi sikap hebatmu itu malah berhasil membuat aku yang merasa bersalah. Dan semua kisah manis kita. Kamu rangkai rapi. Sebuah cerita yang sebenarnya hanya kamu yang membuat dan me...

Kepada Hatiku

Kepada Hatiku, Maaf jika aku yang hari ini begitu menyayat dirimu Bunyi detik tak berubah Meski senja tak sejingga kemarin Aku telah membuatmu koma Pandanganku pergi entah kemana Entah menerawang kemana Maaf jika kamu harus merasakan senyum terbalik itu Aku sudah menyakiti dirinya Tanpa kesadaran diri yang berarti Namun aku sadar ini membuatmu perih, Hati Hati, bagaimanapun aku tak bisa lepas darimu Jika kamu pergi, itulah aku mati Karena aku tak akan bisa lagi merasakan sebuah rasa Jika bunyi detik benar tak berubah Izinkan aku perbaiki kerusakan sayapmu Izinkan aku hiasi kembali ruang luasmu itu Maafkan aku, Hati

Buat Aaron, Sahabat terbaik gw!

Dear Aaron, Dalam diam ini, gw mau pinjam bahu lo buat nangis. Sebentar? Gw yakin lo bakal membiarkan gw seperti ini sampai perasaan gw bisa lebih lega. Lo emang pengertian. Selanjutnya, gw mau cerita banyak sama lo. Boleh pinjam waktu lo? Lo pasti selalu siap jika memang ada kesempatan. Terima kasih karena lo selalu menitipkan gw pada orang terdekat gw. Lo gak pernah membiarkan gw kesepian. Teringat saat tengah malam itu, Aaron. Pesan singkat yang gw kirim ternyata membuat lo khawatir. Maaf. Dan gak lo balas pesan singkat itu. Nama lo langsung muncul sebagai panggilan masuk. Beda operator tentu. Status yang sama sebagai anak kos seolah pudar. Demi gw? Gw yakin, jawabannya ya. Dan hal itu dibenarkan dengan pernyataan lo saat bicara. Kemudian saat ini, gw begitu sangat amat ingin lo ada disamping gw. Gw mungkin akan sedikit menyebalkan dengan air mata gw. Tapi lo gak pernah bilang gw cengeng. Itu istimewanya lo. Lo sering bilang, air mata itu bisa jadi obat lo. Jangan ragu buat mengelu...